Rabu, 04 Februari 2009

Rinduku yang tersayat

Anty,engkau pesona malam yang terkurai sampai mimpi berbuih kerinduan.
Anty,engkau bukan pidadari yang terbungkus cinta dengan pedaran keagungannya.
Anty,aku melihat jalan jiwa yang terbakar keindahan surgawi dalam khayalku.
Seringkali aku terhirup kegembiraan dari bilik hatiku yang kosong dan menyentuh jantungku.
Segumpal darahku menghiasi rajutan nadi-nadi sebagai kemuliaan.
Anty,kadang hatiku tersaput kepedihan saat engkau mengantarkan aku ke depan pintu ruang dan waktu.
Pelannya hidup kurasakan tersentak dalam pijakan kaca yang menembus kulitku.
Aku percaya pada kasih sayang dari torehan kata yang terangkai dan kearifan.
Anty,tapi semua itu masih tak dapat aku jelaskan dari jendela hatiku paling dalam.
Begitu banyak ketepatan cinta dengan kebijakannya.
Anty,selama datang waktuku untuk memelukmu aku inginkan senyum dibalik wajahmu.
Suatu hari aku akan menggenggam erat tanganmu dan tak akan aku biarkan terlepas.
Anty,tapi aku hanyalah biji yang terendam kebodohan sebagai simbol hidup yang mendingin.
Anty,engkau bergema sebagain ciuman dari kegembiraan hatiku..Kegembiraan yang hanya tercipta dari mimpi dan khayalanku...(HN : 20 Oktober 2008)