Sabtu, 16 Agustus 2008

Takkan Kalah

Cahaya pagi yang aku kejar kian mendekat dengan berbisik lirih seribu rahasia

Garis lurusnya menembus daya imaginasiku hingga melampaui harapan dan hayalku

Sejenak aku terbangun tuk berjalan merangkulnya sampai aku mendapatkan sebuah kisahmu

Lintas waktu berjalan kembali mengisi ragaku dengan jiwa baru yang begejolak

Deru keinginan seolah menjadi kenyataan yang semakin dekat dan berlabuh

Semua keadaan dan sekitarku menjadi sebuah petunjuk tuk sebuah hidup baru

Ini adalah kebenaran keinginan dari lipatan hati keruhku yang cerah

Ketika ini gerak hari tak lagi kelam karna aku tak peduli dengan keindahan

Mungkin tongkat kehidupan kan menuntunku ke jalan dimana aku bisa terdiam

Mungkin juga akan membawaku ke sakitnya terjatuh

Haruskah aku sembunyi?
Haruskah aku berlari?

Haah,semua sudah tak bersisa aku hanya punya jiwa dan raga

Aku hanya akan mencoba bertahan atau mengakhiri semuanya

Aku tidak akan kalah dan aku akan menangkan semua ini

Jumat, 15 Agustus 2008

Kelam

Menatap jauh hidup tak mati tapi hati tetap terhenti dari sepi

Aku coba memerah gerak tuk menjepit suara kesetiaan yang tergeletak suri

Perlahan jalan menghilang dari tatap mata yang kosong

Kini tak ada karya terindah yang terukir dalam dinding angkara

Tak ada suara tuk bernyanyi kebersamaan dan kebahagian

Tak ada sebuah telinga untuk mendengar jerit jejaku

Sebelum waktu mematikanku kan aku matikan semua arah semangatku

Aku bertanya tuk sebuah raga yang dulu menggenggam pasak dan nisan

Sekarang dimana jiwaku terbang dan tenggelam dalam kelam

Semuanya telah hilang tanpa goresan api mata

Aku tak ingin mengerti dan tak ingin tau tentang kepedihan yang menusuk hati ini

Hmmm,sebuah kedamaian yang dulu pernah aku harap telah tertiup badai

Seperti bunga-bunga layu yang berguguran pada musim panas

Hatiku bermusim dalam kesendirian dan berguguran pada kebodohan

Kamis, 14 Agustus 2008

Sesalku

Berlabuh dari sebuah harapan dan mimpi
Berundak kelam dan hitamnya masa lalu membuat denyut menyimpang kaku
Aku terbuang dari satu sisi jiwa yang terhenyak mati dan meninggalkan belang
Aku buta karna sebuah keegoan yang datang pada hari matinya jiwa

Sebuah cerita dan sebuah kenangan yang tercipta membuat semakin sesak
Dengan seribu ocehan yang tak menenangkan jiwaku
Menghancurkan semua harapan dan angan-anganku

Di sini aku terhampar sepi dengan sebuah palung kematian yang mendalam
Ditemani penyesalan yang mungkin tak akan pernah berujung
Sesal......sesal.....dan tangis yang berdendang mengikuti datang sebauah kebenaran

Tapi ini sebuah kebodohan yang yang mungkin tak akan pernah aku dapatkan


Karna mereka hanya mimpi...(HN:10-08-08)

Rabu, 13 Agustus 2008

(Tak bejudul)

Lambaian waktu kian menderu memutar ingatan rasa kalbu yang membeku
Aku lihat di ujung mata yang terbuka karna indahnya jiwa mentari dari hitamnya hati
Wahai kau dewi disini aku tersenyum tuk sebuah keindahan hati dan ketulusan
Wahai kau dewi yang berbalut wangi surga percikanlah cinta di atas kepalaku sampai aku menginginkanmu Aku ingin menyimpanmu dalam jauh mimpiku sebagai pelengkap hari tuaku
Entah ini sebuah lagu sendu atau hanya sebuah tangisan hatiku tapi benar ini diriku yang menyimpan rasa ragu
Kau tubuhku yang terjatuh tuk gelapnya aliran darahku,kembalilah tuk melihat sebuah nada kematianku
Kau ragaku tunjukanlah belahanmu agar aku tak menyimpan rasa kesedihanku
Aku tak pernah tau antara mimpi dan kenyataan hanya sebuah ke egoan berhias kemunafikan
Raga dan jiwaku letih jika harus jatuh pada keadaan yang kosong.

Selasa, 12 Agustus 2008

Malam yang Buta

Malam ini cahaya tak tampak tuk teman dalam hening dan duka,Malam menyambung kesepian sebagai rasa kehampaan yang terpendam mati dalam aliran nadi,Kisah malam ini jadi suatu angan yang menepikan sebuah mimpi tuk salam keindahan pagi,Tapi itu hanya nyanyian hati yang merindukan sebuah repih hati,Malamku sepi tuk sebuah hari yang mati.Malam ini sungguh menjemukan memutar rasa galau yang mati terhimpit sepi.Malam ini membenarkan bintik hitam dalam ragaku yang berhias mimpi.Malam ini membuat egoku semakin meninggi yang memancung hati.Andai saja dia mengerti akan arti sebuah mimpi.Andai dia tau rasa yang aku miliki.Kan aku sandarkan hati tuk jiwa ini yg mungkin tak kembali.Terlintas sejenak lelah yang terpapar hari tadi,dan masih terasa peluh yg mengalir dalam nadi.Terdiam aku memutar waktu tuk melepas bebanku yang terkubur dalam hati.Mungkin malam ini akan aku bebaskan semua angan dan khayalanku tuk mendapatkan sebuah mimpi baruMalam ini aku inginkan kedamaian tertancap dalam hatiku,,walau sudah tak berarti lagi.(HN : 8/08/2008)