Menatap jauh hidup tak mati tapi hati tetap terhenti dari sepi
Aku coba memerah gerak tuk menjepit suara kesetiaan yang tergeletak suri
Perlahan jalan menghilang dari tatap mata yang kosong
Kini tak ada karya terindah yang terukir dalam dinding angkara
Tak ada suara tuk bernyanyi kebersamaan dan kebahagian
Tak ada sebuah telinga untuk mendengar jerit jejaku
Sebelum waktu mematikanku kan aku matikan semua arah semangatku
Aku bertanya tuk sebuah raga yang dulu menggenggam pasak dan nisan
Sekarang dimana jiwaku terbang dan tenggelam dalam kelam
Semuanya telah hilang tanpa goresan api mata
Aku tak ingin mengerti dan tak ingin tau tentang kepedihan yang menusuk hati ini
Hmmm,sebuah kedamaian yang dulu pernah aku harap telah tertiup badai
Seperti bunga-bunga layu yang berguguran pada musim panas
Hatiku bermusim dalam kesendirian dan berguguran pada kebodohan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar