Mentari tlah bersinar emas dengan sambutan nyanyian alam
Sejenak aku terbangun dari selembar mimpi tuk melihat sinarnya di atas bukit
Aku pandangi sinar itu bagai garis-garis waktu yang menghimpit semangatku
Kemudian aku tanyakan keresahan hatiku padanya tentang cinta yang bersembunyi dalam hati yang belum lama mati dan tersiram rasa benci
Aku bercerita kepadanya tentang wanita yang mengisi hatiku dengan duri-duri madu
Sampai hatiku terlalu manis tuk dinikmati dengan perdu
Mentari tahukah dia bahwa aku masih merindunya dalam ruang hati ini?
Tahukah dia tentang rasa yang pernah aku janjikan kepadanya?
Mentari,bagaimana cara mendapatkan setitik senyum embun dipipinya?
Rasaku tlah kering sekering semangatku tuk mendapatkanya
Tunjukan padaku tentang kesucian cinta dan mahligai bunga yang berkembang bagai angin sejuk terhirup raga sebelum rasa ini terkubur mati
Kini gelora asmara merasuk raga bagai rantai neraka yang membelit sukma
Mentari,aku tlah terluka dan membusuk hanya tuk mengejarnya dalam mimpi
Dan kini kesadaranku hilang tertelan kemunafikan dan keegoannya
Sungguh aku tak mengerti dengan garis ikat yang dia berikan kepadaku
Memasukakan semangat tuk menunggu belai sayang tu curahan hatiku
Sampai kata-katanya mencabik-cabik semua perasaanku
Aku tak mengerti dengan arti senyumannya yang terhias dalam ruang hatiku
Semakin aku lihat denyut jantungku semakin meronta tuk berdetak keras
Tapi entah jiwa cintaku tak sampai kepadanya atau rasaku tanpa keyakinan yang mudah hilang terhempas waktu?hingga keraguan menghampirinya?
Sungguh aku mencintainya dengan segenap rasa yang aku punya
Mentari,rasaku kepada wanita itu telah menjadi padang pasir dengan kaktus yang menulis namanya dan mungkin kan hilang dan terkubur tapi nama itu kan aku jaga selayaknya kenangan dalam tembikar tua selayak kenangan mahkota karma aku tak mungkin tuk membeci atau mendustainya
Karna cinta itu untuk hati……..
( Di ambil dari buku harian HN : Bukan untuk Cinta Anthie )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar