Heninglah ragaku ketika suara hatiku tak lagi berderu
Tenanglah jiwaku dari mimpi-mimpi yang rapuh,
Dalam mimpi terkenang kebusukan hidupku bagai bulu emas yang melayang
Kini kurasakan kehampaan melipat daun hidup sampai jiwaku membisu
Telah aku kejar Dewi malam sampai titik semangatku tapi hanya kesedihan dan duka yang aku dapat,lalu kemanakah kebahagiaan dan keindahan tadi?
Kemarin jiwaku bagai karang yang menebar keangkuhan tak terbatas sampai ombak meluluh lantahkanku, kini jiwaku retak sampai lagu kematian menjemput
Kesedihan untukku karena aku meletakan pisau kematian di hatiku
Apa yang kau lakukan padaku?kau memaniskan hati dengan sayatan-sayatan kebencian
Kau tabur kesombongan dan keangkuhan dalam sebuah kata
Kau acuhkan aku hanya tuk tenangkan rasa dan kau lumpuhkan sendi-sendiku sampai aku tak lagi mampu berdiri….
Memang aku bukan nyanyian yang menopang semangatmu
Aku bukan tubuh yang duduk disampingmu tuk berbagi dukamu
Aku bukan bagianmu yang membantumu berdiri dan berjalan
Aku juga bukan mata dan telingamu sebagai penuntunmu
Aku bukanlah teman,shobat,kekasih atau sodaramu yang dapat kau sentuh
Aku hanya warna pelangi yang semu
Akulah kesedihan yang terbuang,tercampakan oleh keegoan
Terusir dari rasa yang menjadi pancung keegoisan….
Sebenarnya aku sangat membencimu karena kau telah tumpahkan kesombongan
Sebenarnya aku ingin mengubur dalam hatiku
Tapi gejolak rasa dendam terus mengalir masuk ke nadi menekan jantungku
Tubuhku memanas sampai aku kehilangan kesadaran mengobarkan semangat kebencian
Hingga bertumpu pada rasa keangkuhan abadi
Aku kan pulang dengan pikiran yang kosong
Aku kan pulang dari rasa kecewa dan kesedihan
Kan aku sandarkan pikiranku dan kupandangi pikiran yang tlah kosong itu
Dan akan aku isi kembali dengan kata-kata (“aku tak akan pernah menyerah sampai rasa hatiku puas,majulah wujudkan semua dan jangan sisakan mimpi”)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar